Seorang teman pernah bilang kepada saya; jika kamu belum bisa mengakali masyarakat berarti belum menjadi pejabat. Lho! Bener. Kemampuan paling sulit dan wajib dimiliki oleh pemimpin adalah seni mengakali. Oleh karena itu, jika ada pemimpin yang sedang apes tertangkap karena dianggap melanggar aturan, artinya belum menguasai seni mengakali secara optimal.
Teman saya pun melanjutkan ceritanya. Dimanapun, seni mengakali masyarakat bisa diterapkan tergantung order kepentingan. Mulai di tingkat pusat hingga daerah hingga desa, seni mengakali akan selalu tumbuh subur sesuai kondisi lingkungan. Jujur, saya penasaran dengan cerita teman saya tersebut. Kenapa dia bisa berkesimpulan seperti itu?
Kamu bisa jelaskan contoh kongkrit seni mengakali masyarakat itu? Saya pun ‘ndedes’ pertanyaan kepadanya. Contohnya sederhana dan mungkin kita sebagai masyarakat super awam tidak pernah menyadari kalau sedang diakali. Dengan tegas, teman saya itupun memberikan beberapa contoh kongkrit.
Apa itu?
Misalnya, ada pejabat sok peduli tapi sebenarnya tuli. Dianjurkan segera ke apotik terdekat untuk membeli salep telinga. Ada lagi? Pejabat yang seolah tepat janji meski sebenarnya sedang mem-politisasi. Dianjurkan lebih sering memutar ‘youtube’ pengajian. Hadeeh…Ada lagi? Ini tingkat tertinggi; manakala mampu menjadikan masyarakat sebagai ‘mainan baru’. Lho! Kok begitu? Lihat saja, anak-anak yang punya mainan baru, dia pasti lupa waktu.
Jadi, kita ini sedang dijadikan mainan?
Era digital, dibuatkan program mainan jangka pendek, menengah, dan panjang.
Mainan yang mudah diakali. Diamput! –cucuk espe

0 Komentar