Musdes Akhir Tahun 2025 dan "Sambat yang Terlambat"

Musdes Morosunggingan Desember 2025. Cukup kilat meski dalam kondisi "negara tidak darurat." (Foto: dok/kades)

SURAT TERBUKA ini merupakan impresi saat saya hadir di Musdes Morosunggingan (24/12), beberapa menit dan akhirnya meninggalkan ruangan. 

Dengan impresi perception, saya ingin mengabadikan momentum (yang sudah bisa saya bayangkan 'bentuknya') tersebut, tentu dengan harapan akan muncul bias positif di masyarakat Morosunggingan. 

Baca Juga: LKM: RATUSAN JUTA MENGUAP...?

SAMBAT YANG TERLAMBAT

Beberapa point pokok yang saya tangkap pada menit-menit awal musdes, adalah sebagai berikut. 

1. Musdes dimulai sekitar pukul 11.00 WIB lebih dan menurut informasi selesai sekitar 12.30 WIB. Artinya, masyarakat yang tentu punya gagasan, hanya diminta menonton saja.

2. Pejabat dari Kecamatan Peterongan, secara implisit mengamini budaya "musdes kilat". Klop! Ironis. 

3. Semua sambat Dana Desa (DD), anjlok dan dipangkas peruntukannya (sesuai petunjuk). Hal ini mengisyaratkan desa tidak memiliki sumber keuangan lain, selain DD. 

Lho! Apa Bumdes tidak mampu memberi profit untuk menopang saat trend DD turun. Saya masih ingat 3 tahun lalu memberi sinyal, DD pasti akan turun, ayo perkuat Bumdes. 

Sekarang, terlambat...

4. LKM kok tidak memberi pertanggungjawaban? Sesuai amanah musyawarah khusus Desember 2024 lalu, bahwa LKM harus memberikan pertanggungjawaban di setiap forum musdes. 

Terkait LKM yang eks PNPM, menurut PP 11/ 2021 dan Permendes PDTT 15/2021 wajib melebur ke dalam Bumdes. Kenapa di Morosunggingan tidak? 

Laporan terakhir di forum Musdes awal tahun 2025, masih ada uang beredar sebagai pinjaman di masyarakat, kisaran Rp. 200 juta (menurut Bendahara LKM saat itu, minus sulit pengembalian). 

Dan yang membuat miris ada Rp 200 juta lainnya mengendap di rekening. 

Jika Pemdes Morosunggingan sambat kelabakan mencari sumber dana, mengapa tidak mengambil alih LKM eks PNPM menjadi support unit usaha Bumdes? 

Jika Bumdes tidak mampu menjalankan? Reshuffle saja...hehe

Baca Juga: PEMDES DAN KONTROL KONSTRUKTIF

AKHIRNYA...

Melalui laman jurnalisne warga ini, sebagai warga Morosunggingan yang --sekedar-- bercita-cita menciptakan Morosunggingan Mandiri, tidak sekedar 'mandiri omong kosong" maka surat terbuka ini saya tulis. 

Sekaligus, tulisan ini semoga akan menjadi rekam jejak digital dan menjadi pembelajaran serta bahan perenungan, semua warga yang peduli. 

Bahwa membangun desa, selama ada pikiran;...ngene ae, gak perlu repot! Perlahan Morosunggingan akan hancur secara sosial dan kultural. 

Saya, sampeyan, dan semuanya masih terus belajar. Morosunggingan harus beda. - ditulis oleh Cucuk Espe. 

Artikel Terkait: 

MENGGAGAS KARANG TARUNA MOROSUNGGINGAN, DIBUTUHKAN KONSEP 'VISIONER'

Posting Komentar

0 Komentar